Salah satu investasi yang terbilang sering saya lakukan adalah berinvestasi dalam bentuk peningkatan kapasitas pengetahuan yang saya miliki. Bisa jadi dengan membeli buku, atau dengan mengikuti berbagai seminar dan pelatihan. Istilah teman-teman di salah satu komunitas bisnis yang saya ikuti, “investasi leher ke atas”. Artinya, meningkatkan kapasitas diri dengan asupan-asupan keilmuan yang bermanfaat untuk diimplementasikan dalam bisnis. Sehingga, jangan heran jika menemui tumpukan buku saat berkunjung ke ruang kerja saya.

Saya menganggap “knowledge investment” ini sangat penting dan menjadi modal utama dalam bisnis yang saya jalani (baca: Perlu Modal Bisnis, Berikut Solusinya). Sebagai pendamping UMKM dan trainer tentunya saya perlu selalu meng-upgrade ilmu yang saya miliki. Tujuannya, pertama, untuk meningkatkan kualitas pendampingan yang saya berikan. Kedua, agar ilmu yang saya sampaikan selalu berkembang dan tidak pernah usang.

Salah satu metode yang saya gunakan untuk memunculkan kebutuhan belajar adalah dengan cara mengajar. Menjadi narasumber berbagai pelatihan dan pengajar paruh waktu di salah satu lembaga pendidikan siap kerja di Kediri merupakan cara yang saya jalankan untuk “mengosongkan gelas” dan meluangkan ruang di otak agar bisa diisi dengan ilmu-ilmu baru.

Bagi sebagian besar orang hobi investasi pengetahuan ini terbilang aneh. Bahkan, orang2 terdekat saya pun sering mengungkapkan keheranan mereka. “Kenapa harus beli buku tebal-tebal dan ikut workshop berhari-hari dan berbiaya mahal? Kan sekarang saja permintaan sebagai narasumber dan trainer sudah cukup banyak”. Tentu saja komentar semacam itu tidak menyurutkan langkah untuk banyak belajar.

 

Knowledge: The Most Powerful Investment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Instagram