Sejak lama Kabupaten Blitar dikenal sebagai salah satu kantong TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di provinsi Jawa Timur, selain Kabupaten Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo dan Pacitan. Sulitnya kondisi ekonomi seringkali menjadi alasan utama banyaknya warga daerah-daerah kantong TKI tersebut mengadu nasib bekerja ke luar negeri. Meninggalkan keluarga (orang tua, suami/istri, anak) dalam jangka waktu lama dengan harapan bisa memperbaiki kondisi ekonomi sepulang dari luar negeri setelah menyelesaikan kontrak kerja.

Kenyataan yang ada, harapan yang diperjuangkan para TKI ini bukan tanpa resiko. Banyak pengorbanan yang harus diberikan. Mulai dari berangkat, selama bekerja di luar negeri, hingga kepulangan ke kampung halaman, semua penuh pengorbanan yang tidak bisa disepelekan. Meninggalkan keluarga jelas pengorbanan besar sebelum berangkat, selain rumitnya pengurusan dokumen keberangkatan dengan pihak PJTKI. Selama bekerja pun di luar negeri masih harus menyesuaikan dengan kultur daerah setempat, belum lagi resiko sakit dan masalah dengan majikan. Jauh dari keluarga pun menjadi masalah ikutan dengan tingginya angka perceraian akibat bekerja di luar negeri. Sepulang ke kampung halaman bukan berarti masalah berhenti begitu saja. Para TKI purna ini kerap kebingungan akibat kehilangan uang hasil kerja yang rutin diterima. Akibatnya, mereka kerap menjadi sasaran penawaran investasi bodong dan uang yang mereka kumpulkan selama bekerja di luar negeri pun melayang sia-sia. Ujung-ujungnya, mereka kembali terjebak dalam kesulitan ekonomi yang menimbulkan keinginan untuk kembali bekerja ke luar negeri.

Adalah Bapak Cipto dan Ibu Sulis asal Nglegok, Blitar yang menangkap kepahitan demi kepahitan yang dialami para TKI ini dan memberikan empati dengan cara memperjuangkan dan membantu permasalahan yang dihadapi para TKI ini melalui wadah PERTAKINA (Persatuan Tenaga Kerja Indonesia Purna). Misi utama PERTAKINA adalah melakukan pendampingan terhadap para TKI yang menghadapi masalah, baik sebelum berangkat maupun selama bekerja, hingga kepulangan ke kampung halaman. Termasuk dalam misi tersebut adalah perbaikan kondisi ekonomi para TKI purna sehingga dapat mencegah keinginan untuk kembali bekerja di luar negeri.

Untuk memperbaiki kondisi ekonomi para TKI purna, Ibu Sulis berinisiatif mengadakan pelatihan-pelatihan berbasis produksi, seperti membuat kue kering, aneka keripik, kerajinan tangan, dan sebagainya. Setelah pelatihan, para anggota PERTAKINA pun mulai melakukan produksi dan memasarkan secara terbatas di daerah masing-masing. Pihak PERTAKINA tak tinggal diam dan berupaya membantu pemasaran produk anggotanya melalui wadah koperasi. Berbagai event expo dilakoni untuk memperkenalkan produk anggota, mulai dari wilayah lokal Blitar hingga lintas provinsi. Tantangan dan semangat pun timbul saat produk diterima pasar dan mendapat sambutan konsumen berupa order yang lebih banyak. Kebutuhan akan perbaikan kemasan dan pemanfaatan e-commerce pun kian mendesak untuk memperluas jangkauan pasar.

Konsistensi dan komitmen yang dilakukan Bapak Cipto dan Ibu Sulis sejak 2012 akhirnya membuahkan hasil. Banyak instansi terkait yang melirik kinerja PERTAKINA, di antaranya Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Koperasi & UMKM Kabupaten Blitar. Bahkan, Pimpinan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kediri pun beberapa kali bertandang ke markas PERTAKINA dan mengundang untuk hadir dalam setiap kegiatan yang diadakan Bank Indonesia. Selain itu, kantong-kantong TKI yang lain juga mulai melakukan inisiasi PERTAKINA di daerah masing-masing dengan melakukan benchmarking di PERTAKINA Blitar.

Semangat terus, pak Cip dan bu Sulis!!

PERTAKINA: Mengentaskan Perekonomian TKI Purna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Instagram