Berita tentang ditutupnya gerai 7-Eleven (Seven Eleven/Sevel) pada kuartal pertama tahun 2017 menghentakkan dunia bisnis nasional. Betapa tidak? 7-Eleven merupakan jaringan ritel internasional asal Amerika Serikat yang terbilang sukses di banyak negara.

Analisa pakar pun bermunculan mengenai penyebab kegagalan 7-Eleven. Salah satunya adalah kegagalan 7-Eleven dalam menentukan model bisnis yang tepat untuk diterapkan di bisnisnya, terutama untuk pasar Indonesia. 7-Eleven membidik pasar kalangan menengah ke atas dengan membuka gerainya di pusat-pusat keramaian dan lokasi strategis lainnya yang otomatis memakan biaya sewa yang besar. Ditambah lagi, pengunjung 7-Eleven di Indonesia kebanyakan kaum muda dan pelajar yang berharap bisa nongkrong berjam-jam hanya dengan membeli satu atau dua produk murah saja. Berbeda dengan gerai 7-Eleven di negara asalnya yang didominasi profesional muda yang menggunakan 7-Eleven untuk pertemuan bisnis. Realitas pasar itulah yang akhirnya membuat 7-Eleven terpaksa gulung tikar di Indonesia.

Di sinilah pentingnya pelaku UMKM membuat model bisnis. Sebuah model bisnis akan mampu mendeskripsikan bagaimana operasional bisnis secara menyeluruh, mulai dari memilih segmen pelanggan, cara bisnis mendapatkan uang, sampai komponen biaya yang terlibat. Berbeda dengan business plan (rencana bisnis) yang cenderung mendeskripsikan bisnis berdasar asumsi dan hipotesa yang kompleks dan detil, model bisnis dibuat lebih ringkas dan simple yang sebenarnya adalah ringkasan dari rencana bisnis.

Apa yang didapat pelaku UMKM dengan merancang suatu model bisnis yang memadai?

  1. Fokus

Bukan tidak mungkin di tengah perjalanan bisnis muncul peluang-peluang baru yang justru bisa mengaburkan rencana yang sudah disusun. Terjebak untuk mengeksekusi peluang-peluang baru bukan hanya mengaburkan tujuan awal bisnis yang sedang dirintis, alih-alih malah menjerumuskannya dalam kegagalan. Dengan adanya model bisnis yang detil dan representatif, pelaku UMKM akan mampu fokus pada hal-hal yang sudah direncanakan sejak awal.

  1. Merancang strategi

Adanya pendeskripsian yang detil terhadap rencana pengembangan bisnis tentunya mempermudah untuk merancang tahapan-tahapan strategi yang akan dijalankan, baik jangka pendek, menengah maupun panjang. Strategi yang tertata rapi akan lebih menjamin keberhasilan bisnis.

  1. Monitoring dan evaluasi

Dalam menjalankan bisnis tidak semua bisa dipastikan berjalan lancar sesuai rencana. Pasti akan ada kendala, hambatan dan rintangan. Model bisnis yang akurat dapat bertindak selaku alat kontrol untuk memonitor apakah ada penyimpangan di bisnis atau masih berada di jalur yang benar. Bila terjadi penyimpangan, bisa segera diambil langkah-langkah antisipatif.

  1. Investor

Dengan mempresentasikan model bisnis yang representatif dan didukung data yang akurat, bukan tidak mungkin ada investor yang tertarik untuk bekerjasama. Hanya dengan melihat model bisnis yang dibuat, seorang investor yang berpengalaman mampu membaca prospek bisnis ke depan.

 

Model Bisnis, Perlukah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Instagram