Saya ingin membagikan kisah panjang perjalanan pencarian sertifikat kompetensi.

Dalam target kerja yang saya tulis di awal tahun 2018, saya mencantumkan target capaian “Sertifikasi Public Speaker” untuk saya selesaikan tahun itu. Tentunya saya sangat menyadari pentingnya memiliki sertifikat profesi untuk menunjang pekerjaan saya sebagai trainer. Dari situ saya mulai mencari informasi yang terkait sertifikasi profesi; siapa penyelenggaranya dan berapa biayanya. Yang saya temukan pertama kali adalah sertifikasi profesi public speaker dari IPSA (Indonesian Professional Speaker Association) di mana setelah mengikuti sertifikasinya saya akan berhak mencantumkan gelar CPS (Certified Public Speaker) di belakang nama saya. Selain itu, ada juga sertifikasi trainer yang diselenggarakan oleh LSP Trainer Indonesia yang memberikan sertifikat kompetensi dari BNSP. Karena biaya untuk mengikuti sertifikasi di dua tempat itu sangat besar bagi saya saat itu (di atas Rp. 5 juta belum termasuk biaya perjalanan dan penginapan di Jakarta), saya masih berpikir ulang untuk mengikutinya.

Saya pun mencari informasi kepada banyak orang mengenai perbedaan sertifikat yang dirilis oleh organisasi profesi dengan sertifikat kompetensi dari lembaga resmi negara, dalam hal ini BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) sebagai satu-satunya lembaga negara yang berhak menerbitkan sertifikat kompetensi. Akhirnya saya mendapatkan kebulatan niat untuk mengikuti sertifikasi kompetensi BNSP karena pekerjaan saya banyak berhubungan dengan lembaga pemerintahan. Tapi, selama tahun 2018 kesempatan untuk mengikuti sertifikasi kompetensi BNSP belum saya dapatkan. Sehingga target kerja tahun 2018 ini terpaksa saya masukkan ke dalam target kerja tahun 2019.

Kesempatan untuk mengikuti sertifikasi kompetensi BNSP akhir datang dari seorang teman yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Islam Kadiri (UNISKA). Dengan biaya yang ‘cukup logis’, yaitu Rp. 350 ribu, saya langsung iyakan pada waktu itu meskipun pelaksanaannya di Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang. “Dekat saja. Hanya 1 jam perjalanan, daripada harus ke Jakarta”, batin saya waktu itu. Walaupun saat itu sempat galau memilih salah satu dari 2 skema yang ditawarkan, yaitu Pendamping UMKM dan Fasilitator Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) UMKM, atas masukan teman dosen tersebut akhirnya saya memilih skema Fasilitator Diklat UMKM terkait profesi saya sebagai pengajar atau trainer. Dalam sertifikasi profesi yang diselenggarakan pada 21 April 2019 itulah saya bertemu dengan Bapak Ruli Kusumahadi yang saat itu menjadi asesor saya.

Baru saja menyelesaikan sertifikasi Fasilitator Diklat UMKM, datang tawaran yang sangat menggiurkan dari MarkPlus Institute yang bekerjasama dengan Komunitas LUNAS (Layanan UMKM Naik Kelas) untuk mengikuti program sertifikasi selama total 5 hari (3 hari training + 2 hari uji kompetensi) yang menawarkan 3 sertifikat kompetensi BNSP di bidang pemasaran dan 1 sertifikat fasilitator dari MarkPlus Institute. Bagaimana tidak menggiurkan? Program sertifikasi yang biaya normalnya Rp.12,6 juta ditawarkan dalam paket promo hanya perlu membayar Rp. 3,3 juta di luar biaya transportasi dan penginapan. Tentunya kesempatan ini tidak akan terjadi dua kali. Selain itu, di luar dugaan, masih mendapatkan bonus berupa kerjasama dengan MarkPlus Institute sebagai Licensed Partner. Tanpa pikir panjang, bismillah, saya mendaftar program tersebut meskipun pelaksanaannya bertepatan dengan awal bulan Ramadhan 1440 H.

Di akhir 2019 datang lagi tawaran untuk mengikuti program sertifikasi asesor kompetensi yang diselenggarakan oleh LSP Koperasi Nusantara Surabaya (LSPKN) yang dilaksanakan selama 5 hari. Sertifikasi asesor kompetensi ini tidak sering diselenggarakan karena menyesuaikan kebutuhan asesor dari LSP yang bersangkutan, sehingga jika terlewat akan menunggu kesempatan berikutnya untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Ternyata sertifikasi asesor kompetensi kali ini juga terbilang istimewa karena para master asesor baru saja menerima upgrade pelaksanaan uji kompetensi terkini dari BNSP dan peserta sertifikasi asesor kompetensi di Surabaya inilah yang pertama kali menerima update tersebut.

Tak disangka target capaian yang tertunda di tahun 2018 mendapat banyak capaian tambahan di tahun 2019 dengan begitu dimudahkan dan dilancarkan oleh Yang Maha Kuasa. Apakah sertifikasi asesor kompetensi ini merupakan akhir atau puncak perjalanan saya di bidang sertifikasi profesi. Saya merasa capaian sejauh ini belum mencapai puncak perjalanan. Masih banyak yang dapat dan perlu dieksplorasi untuk jangka panjang dan jauh ke depan. Saya masih tetap menunggu dan mengharapkan tuntunan Yang Maha Kuasa untuk melangkah lebih jauh.

 

Asesor Kompetensi: The Story Behind

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Facebook
Google+
http://coachfianda.com/2020/05/30/asesor-kompetensi-the-story-behind
Instagram