Mendengar keluh kesah banyak pelaku UMKM dari berbagai daerah dalam beberapa sesi pendampingan usaha di masa krisis ekonomi akibat pandemi covid-19 ini sungguh membuat hati miris. Ada yang berusaha bertahan dengan melakukan berbagai kreasi dan inovasi, tetapi ada juga yang usahanya berhenti sama sekali. Misalnya, penjual makanan di lokasi wisata yang menggantungkan usahanya hanya dari pengunjung lokasi wisata tersebut. Atau persewaan tenda kursi dan sound system yang usahanya berhenti akibat dilarangnya penyelenggaraan pesta pernikahan dan berbagai event hiburan. Ada lagi pemilik rumah kos dengan sistem pembayaran bulanan yang saat ini kosong karena perkuliahan yang libur panjang. Masih banyak lagi bidang usaha mikro yang mengalami kemacetan total dan sulit untuk bergerak.

Di sisi lain, banyak juga UMKM yang usahanya masih memiliki ruang gerak walaupun sempit, seperti usaha kuliner, penjual bahan kebutuhan pokok, pelengkapan kesehatan dan pelindung diri. Usaha-usaha tersebut masih memungkinkan untuk melakukan berbagai kreasi dan inovasi untuk dapat tetap berjalan di masa krisis ini. Demikian juga dengan penjual produk-produk kesehatan untuk menjaga imunitas tubuh, seperti madu, sari lemon, sari jahe, dan berbagai jenis vitamin. Bahkan usaha-usaha yang menerapkan strategi pemasaran online justru mengalami peningkatan penjualan. Proses kreasi dan inovasi untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada saat ini sering disebut dengan istilah adapting to the new normal.

Bagi sektor usaha yang macet total dan tidak memiliki ruang gerak, seperti pariwisata, leisure, travel agent dan event organizer, seharusnya mereka melakukan pivot alias berganti bisnis secara total karena hampir tidak ada jalan untuk beradaptasi. Tetapi melakukan pivot tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak hal yang harus diperhitungkan sebelum beralih ke usaha baru, mulai dari riset kebutuhan dan daya beli pasar, mempelajari skill baru, membangun tim baru, mengaplikasikan strategi pemasaran baru, hingga ketersediaan modal untuk menjalankan usaha baru dan menyerang pasar. Belum lagi jika memikirkan investasi yang telah dilakukan pada usaha lamanya. Di samping itu, risiko kegagalan juga akan terus membayangi usaha yang baru dirintis tersebut di saat kondisi daya serap pasar sedang lemah. Sehingga, mereka yang usahanya saat ini macet total lebih banyak berdiam, menunggu perkembangan situasi dan berharap kondisi ekonomi akan segera membaik.

Tetapi, mental wirausaha atau entrepreneurship yang telah mengakar dalam jiwa para pelaku UMKM tentunya tidak tergoyahkan dengan krisis ekonomi ini. Mereka sudah terbiasa dengan berbagai tantangan dalam menjalankan usaha, bahkan pilihan untuk menjadi pengusaha mikro pun sebenarnya sudah menunjukkan adanya jiwa petarung yang luar biasa tangguh, entah itu pilihan sukarela ataupun keterpaksaan yang pada akhirnya menjadi kebiasaan. Sehingga, meskipun dalam kondisi sulit, para pelaku UMKM tetap akan menemukan jalan meskipun harus melakukan pivot dalam skala kecil hanya untuk bertahan hidup. Karena tidak ada istilah menyerah dalam kamus yang digunakan para pengusaha.

Adapt Atau Pivot? Menyerah Bukan Pilihan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Facebook
Google+
http://coachfianda.com/2020/05/30/adapt-atau-pivot-menyerah-bukan-pilihan
Instagram