Menjalankan tugas sebagai asesor memang bukan tugas yang mudah. Banyak tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam mempersiapkan proses asesmen, mulai dari mempersiapkan formulir aktivitas dan proses asesmen hingga menetapkan dan melaporkan hasil asesmen (baca: Sertifikasi Asesor Kompetensi).

Proses asesmen kompetensi sangat berbeda dengan ujian keilmuan yang pada umumnya hanya mengandalkan penguasaan seseorang pada pengetahuan (knowledge) dalam suatu bidang. Dalam melaksanakan proses asesmen, seorang asesor kompetensi harus bisa melihat penguasaan seorang asesi (orang yang menjalani proses asesmen) setidaknya dalam 3 hal, yaitu aspek pengetahuan (knowledge), aspek keterampilan (skill) dan aspek sikap (attitude).

Dalam aspek pengetahuan, seorang asesor harus melihat apakah asesi memiliki dasar-dasar melakukan kinerja dalam pekerjaannya dengan cara yang benar dan efektif. Misalnya dalam hal melakukan pekerjaan pencatatan pembukuan dengan menggunakan komputer, apakah asesi mengetahui benar bagian-bagian perangkat komputer, cara menyalakan dan mengoperasikan awal komputer. Sedangkan aspek keterampilan lebih pada kemampuan asesi untuk mengaplikasikan pengetahuan untuk dirubah menjadi hasil yang dibutuhkan di tempat kerja, misalnya mengoperasikan program Excel untuk melakukan pencatatan pembukuan. Aspek sikap menilai tindakan yang diambil seorang asesi dalam hal yang terjadi di luar dugaan, seperti listrik padam saat melakukan pengerjaan pembukuan atau asesi harus bekerja dengan perangkat yang berbeda (bukan komputer).

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kinerja yang diharapkan dihasilkan seseorang yang kompeten bukan hanya aspek pengetahuan saja, melainkan melibatkan keterampilan dalam melakukan pekerjaan dan kemampuan mengambil inisiatif solusi saat menghadapi permasalahan dan hambatan.

Berikut Kemampuan Dasar Kerja yang diharapkan ada pada seorang pekerja:

  1. Komunikasi
    1. menafsirkan kebutuhan klien dan menulisnya.
    2. menggunakan berbagai keterampilan komunikasi, seperti mendengarkan, bertanya, membaca,
    3. menafsirkan, dan menulis dokumen
    4. menulis laporan bahaya dan insiden.
    5. menggunakan keterampilan fasilitasi dan interpersonal yang efektif, termasuk bahasa verbal dan nonverbal yang peka terhadap kebutuhan dan perbedaan orang lain
  2. Kerjasama
    1. bekerja dengan rekan kerja untuk membandingkan, meninjau, dan mengevaluasi proses dan hasil asesmen
    2. berpartisipasi aktif dalam sesi validasi asesmen
    3. mengelola hubungan kerja dan mencari umpan balik dari kolega dan klien pada kinerja Profesional
  3. Problem Solving
    1. mengidentifikasi bahaya dan menilai risiko di lingkungan belajar/asesmen
    2. menggunakan keterampilan manajemen waktu dalam merancang asesmen
    3. menghasilkan serangkaian opsi untuk memenuhi kebutuhan klien
  4. Berinisiatif
    1. menafsirkan lingkungan asesmen dan memilih pendekatan penyampaian yang memotivasi dan melibatkan peserta asesi.
    2. memantau dan meningkatkan praktik kerja untuk meningkatkan inklusivitas.
    3. menjadi kreatif untuk memenuhi kebutuhan asesmen klien.
    4. menerapkan keterampilan desain untuk mengembangkan program inovatif dan fleksibel dengan biaya efektif.
  5. Merencanakan & Mengorganisasikan
    1. meneliti, membaca, menganalisis dan menafsirkan spesifikasi tempat kerja
    2. merencanakan, memprioritaskan, dan mengatur alur kerja
    3. menafsirkan bukti yang dikumpulkan dan membuat penilaiankompetensi
    4. mendokumentasikan rencana aksi dan laporan bahaya
    5. mengatur sumber daya manusia, fisik dan material yang diperlukan untuk asesmen.
  6. Manajemen Diri
    1. bekerja dalam kerangka kerja kebijakan dan organisasi
    2. mengelola hubungan kerja dan kerja
    3. mematuhi tanggung jawab etika dan hukum
    4. mengambil tanggung jawab pribadi dalam perencanaan, penyampaian, dan peninjauan pelatihan
    5. menjadi panutan bagi inklusifitas dan menunjukkan profesionalisme
    6. meninjau persepsi dan sikap pribadi
  7. Kemauan Belajar
    1. melakukan evaluasi diri dan praktik refleksi
    2. meneliti informasi dan mengakses kebijakan dan kerangka kerja untuk mempertahankan kekinian keterampilan dan pengetahuan
    3. mempromosikan budaya belajar di tempat kerja
    4. mencari umpan balik dari kolega.
  8. Kemampuan Beradaptasi Dengan Teknologi
    1. menggunakan teknologi untuk meningkatkan hasil, termasuk pengiriman online dan penelitian menggunakan internet
    2. menggunakan sistem manajemen informasi siswa untuk mencatat asesmen
    3. mengidentifikasi dan mengatur kebutuhan teknologi dan peralatan sebelum pelatihan
    4. menggunakan berbagai perangkat lunak, termasuk paket presentasi

 

Dengan menggunakan poin-poin di atas sebagai dasar asesmen, seorang asesor kompetensi bisa melakukan penilaian dengan menggunakan 5 Dimensi Kompetensi sebagai berikut:

  1. Task Skill (TS): kemampuan seseorang menyelesaikan tugasindividu
  2. Task Management Skill (TMS): kemampuan seseorang menyelesaikan beberapa tugas yang berbeda dalam satu pekerjaan
  3. Contigency Management Skill (CMS): kemampuan merespon dan mengelola ketidakteraturan dan masalah-masalah dalam pekerjaan rutin (disertai proses problem solving)
  4. Job Role/Environment Skill (JRES): kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan tanggung jawab dan harapan lingkungan kerja
  5. Transfer Skill (TRS): kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja baru maupun alat kerja dan teknologi

Dalam melakukan proses asesmen terhadap seorang asesi, asesor kompetensi harus mampu menerapkan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan aturannya secara internasional, yaitu:

  1. Valid: asesmen dianggap valid bila asesmen tersebut menilai apa yang diperlukan untuk dinilai
  2. Reliable: asesmen dianggap dapat dipercaya bila hasil-hasilnya diinterpretasikan secara konsisten dari konteks ke konteks dan dari orang ke orang, tidak ada penafsiran yang berbeda dalam interpretasinya.
  3. Fair: suatu asesmen dianggap adil bila tidak merugikan peserta tertentu, terbuka, bebas dari penyimpangan, mendukung peserta. Misalnya tetap bisa mengakomodasi peserta dengan ketidakmampuan atau disabilitas tertentu.
  4. Flexible: asesmen dianggap fleksibel bila dapat memenuhi kebutuhan serangkaian konteks. Suatu asesmen dianggap tidak fleksibel jika hal itu menolak hasil belajar sebelumnya atau gagal memberi kesempatan seorang peserta kesempatan kedua atau ketiga untuk diases
Prinsip-Prinsip Asesmen Kompetensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Facebook
Google+
http://coachfianda.com/2019/12/05/prinsip-prinsip-asesmen-kompetensi
Instagram